SURGAKU MUTIARA HIDUPKU
SURGAKU MUTIARA HIDUPKU KARYA DEWI KARTIKA MELINA Masih kugenggam novel berwarna merah dengan judul “Air Mata Terakhir Bunda”. Air mata yang terus berjatuhan seakan tak ingin berhenti menangisi kepergiannya. Seandainya waktu berputar lebih lambat, aku ingin sekali memahami setiap barisan kata yang kau ucap. “Ibu, kasihmu takkan pernah mengalahkan bintang yang menyinari langit. Tak seperti purnama yang menghiasi bulan-bulan di antariksa, Kau melebihi segala apa yang ada”. Perempuan yang sering terlupakan. Wujudnya sebagai daun. Rahimnya melahirkan manusia berarti, meski dia terkadang sudah tak dimaknai lagi. Sosok kuat yang menerima garisnya tidak mencari, menggugat atau meminta pertanggungjawaban suami atas kehidupan semua anaknya. Seorang ibu hanya penjejak tetes air mata yang mengukir sejarah luka, duka dan apa saja yang begitu sering membuatnya menangis. Perempuan dapat menjadi selembut sutra, sesejuk daun dan sebening embun dengan cintanya. Laki-laki yang se...